Para filosof di masa lalu mendifinisikan filsafat sebagai aktifitas filsafat sejati, filsafat sehingga mendifinisikan filsafat secara khas. Maka definisi filsafat yakni meliputi sains tentang keadaan-keadaan wujud, dipandang dari segi bahwa ia adalah wujud, bukan dari segi bahwa ia memiliki individualisasi khusus seperti badan, kuantitas, kualitas, manusia, tetumbuhan, atau apa saja yang ada.
Pengetahuan kita tentang segala sesuatu terdiri atas dua macam; pertama, yang dapat dibatasi pada spesies atau genus tertentu, ia dapat berlaku pada ketentuan (ahkam) dan aksiden dari spesies dan aksiden tertentu, sebagaimana pengetahuan kita mengenai ketentuan bilangan (aritmatika), kuantitas (geometri), sifat tanaman, hewan, ilmu kedokteran. Bentuk ini meliputi seluruh sains mineralogi, fisika, kimia, geologi , ilmu atom dll.
Kedua, pengetahuan yang tidak dapat dibatasi pada spesies tertentu. Pengetahuan tentang wujud ini bukan pada bagian-bagian dari dari spesies tertentu, akan tetapi pengetahuan yang hakiki tentang seluruh wujud. Misalnya pertanyaan pertanyaan tentang tubuh bukan pada kaki dan kepala akan tetapi misalnya; Jika tubuh mempunyai kepala, apakah kepala ini mempunyai jiwa yang dapat berpikir dan merasa, ataukah ia lemah dan kosong. Apakah keseluruhan tubuh mersakan kenikmatan kehidupan, atau apakah intelegensi dan persepsi tubuh ini dibatsai pada sejumlah entitas yang timbul secara kebetulan? Atau, apakah seluruh tubuh mengejar suatu tujuan, ataukah seluruh tubuh berjalan ke arah suatu kesempurnaan realitas?.
Perubahan linguistik yang menyangkut konvensi penggunaan kata telah disalah artikan sebagai perubahan makna yang berkaitan dengan keadaan yang sebenarnya. Dalam bahasa zaman kuno, kata-kata filsafat dan hikmah digunakan dalam pengetahuan rasional, bukan pengetahuan yang bersumber dari wahyu. Jadi kata-kata tersebut melingkupi semua ide-ide intelektual dan rasional manusia.
Pada zaman modern, kata ini menjadi terbatas pada metafisika, logika, estetika dan yang sejenis. Hal ini berbeda dengan zaman sebelumnya dimana filsafat meliputi semua ilmu. Sains dulunya pernah terpadu dibawah nama filsafat tetapi kini nama tersebut hanya dinisbahkan pada sejenis sains.
Perubahan makna dalam nama ini tidak ada kaitannya dengan perpisahan antara sains dan filsafat. Sains tidak pernah merupakan bagian dari kata filsafat; sehingga tidak mungkin sains bisa terpisah dari filsafat.
Secara sederhana dapat dikatakan, filsafat adalah hasil kerja berpikir dalam mencari hakikat segala sesuatu secara sistematis, radikal, dan universal. Sedangkan Filsafat Islam itu sendiri adalah hasil pemikiran filsuf tentang ketuhanan, kenabian, manusia, dan alam yang disinari ajaran islam dalam suatu aturan pemikiran yang logis dan sistematis.
Dalam perkembangan akhir-akhir ini, cakupan Filsafat Islam itu diperluas kepada segala aspek ilmu-ilmu yang terdapat dalam khasanah pemikiran keislaman, yang meliputi bukan saja diperbincangkan oleh para filsuf dalam wilayah kekuasaan islam tentang hal yang tersebut, tetapi lebih luas mencakup Ilmu Kalam, Ushul Fiqih, dan Tasawuf. Seperti yang dikemukakan oleh Muhammad Athif al-Iraqy, Filsafat Islam secara umum ialah meliputi pengetahuan lainnya yang diciptkan oleh ahli pikir Islam. Sedangkan secara khusus, ialah pokok-pokok atau dasar-dasar pemikiran yang dikemukakan oleh para filsuf islam,
Biografi Al-Farabi
Abu Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Farabi (870-950, Bahasa Persia) atau Abu Nasir al-Farabi (dalam beberapa sumber ia dikenal sebagai Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzalagh al-Farabi), juga dikenal di dunia barat sebagai Alpharabius, Al-Farabi, Farabi, dan Abunasir adalah seorang filsuf Islam yang menjadi salah satu ilmuwan dan filsuf terbaik di zamannya. Ia berasal dari Farab, Kazakhstan.
Al-Farabi adalah seorang komentator filsafat Yunani yang sangat ulung di dunia Islam. Kontribusinya terletak di berbagai bidang seperti matematika, filosofi, pengobatan, bahkan musik. Al-Farabi telah menulis berbagai buku tentang sosiologi dan sebuah buku penting dalam bidang musik, Kitab al-Musiqa.
Pada masa kekhalifahan Al-Muta'did (892-902M), Al-farabi dan Yhanna ibn Hailan pergi ke Baghdad dan Al-farabi unggul dalam ilmu logika. Al-Farabi selanjutnya banyak memberi sumbangsihnya dalam penempaan filsafat baru dalam bahasa Arab.
Al-Farabi dikenal sebagai "guru kedua" setelah Aristoteles. Dia adalah filosof islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan sejauh mungkin menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tetang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam. Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
Pada masa mudanya, di kota kelahirannya, Al-Farabi banyak belajar beragam disiplin ilmu, mulai dari fikih, tafsir, hingga logika. Namun semua penjelasan gurunya tidak memuaskan dirinya. Sampai umur 50, ia tetap tinggal di Kazakhstan seterusnya bekerja sebagai seorang kadi namun jawatan itu hanya disandang sementara sahaja lalu berhenti dipertengahan jalan jalan apabila datang minatnya kepada ilmu falsafah. Adapun soal asal mula beliau mula dan berminat dan terus serius dalam menuntut ilmu falsafah ialah menurut Ibn Abi Usaibi’ah ialah, " Pada suatu hari, seorang insan telah memberikannya sejumlah buku-buku Aristotles. Beliau bersetuju untuk melihatnya. Setelah melihat Al Farabi bersetuju untuk membacanya hingga dapat memahaminya dengan baik dan seterusnya menjadikan Al Farabi seorang ahli falsafah. Dari waktu itu, Al Farabi terus menumpukan minat dan perhatiannya kepada ilmu falsafah.
Justru itu Al-Farabi sanggup berkelana dan berpindah kemudian pindah ke Baghdad, pusat ilmu pengetahuan dan peradaban saat itu. Di Baghdad inilah selama 20 tahun, al-Farabi bertemu sekaligus belajar dengan orang-orang terkenal dari beragam disiplin ilmu pengetahuan.
Metafisika
Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan falsafat Islam. Dalam hal ini Al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Dalam pemikirannya, kalau Tuhan, Pencipta alam semesta, berhubungan langsung dengan ciptaan nya yang tak dapat dihitung banyaknya itu, di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Zat, yang di dalam diriNya terdapat arti banyak, tidaklah sebenarnya esa. Yang Maha Esa, agar menjadi esa, hanya berhubungan dengan yang esa.
Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan falsafat emanasi (al-faid, pancaran) dari Al-Farabi. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang esa.
Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut:
Akal l menghasilkan Akal IV dan Saturnus.
Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter.
Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars.
Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari.
Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.
Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri
Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan.
Akal X menghasilkan hanya Bumi.
Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.
Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal dalam pendapat filosof Islam adalah melekat.
Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi Al-Farabi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini, tetapi melalui Akal I yang esa, dan Akal I melalui Akal II, Akal II melalui Akal l dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X.
Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui Akal atau malaikat. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak, dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat Al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof Islam yang menganut faham emanasi.
Kenabian
Adapun teori kenabian yang diajukan Al-Farabi dimotivisir pemikiran filosofis pada masanya yang megingkari eksistensi kenabian oleh Ahmad Ibn Ishaq al-Ruwandi, yang berkebangsaan Yahudi dan Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria al-Razi. Menurut mereka para filsuf berkemampuan untuk mengadakan komunikasi dengan ‘Aql Fa’al. Menurut Al-Farabi, manusia dapat berhubungan dengan Aql Fa’al melalui dua cara, yakni penalaran atau renungan pemikiran dan imaginasi atau intuisi (ilham). Cara pertama hanya dapat dilakukan oleh Nabi. Perbedaan antara kedua cara tersebut hanya pada tingkatannya, dan tidak mengenai esensinya.
Ciri khas seorang Nabi bagi Al-Farabi adalah mempunyai daya imaginasi yang kuat di mana obyek inderawi dari luar tidak dapat mempengaruhinya. Ketika ia berhubungan dengan Aql Fa’al ia dapat menerima visi dan kebenaran-kebenaran dalam bentuk wahyu. Wahyu adalah limpahan dari tuhan melalui Aql Fa’al (Akal 10) yang dalam penjelasan Al-Farabi adalah Jibril. Dapatnya Nabi berhubungan langsung dengan Akal 10 (Jibril) tanpa latihan, karena Allah menganugerahinya akal yang mempunyai kekuatan suci dengan daya tangkap yang luar biasa yang diberi nama hads. Sedangkan filsuf dapat berhubungan dengan Tuhan melalui mustafad (perolehan) yang telah terlatih dan kuat daya tangkapnya, sehingga dapat menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni dari Akal 10. 1 Dengan demikian dapat dikatakan, filsuf tidak sejajar tingkatannya dengan nabi, karena setiap Nabi adalah filsuf, tetapi tidak setiap filsuf itu Nabi karena adnya unsur pilihan Allah.
Karena Nabi dan filsuf sama-sama dapat berhubungan dengan Akal 10, maka antara wahyu dan filsafat tidak terdapat pertentangan. Adapun mu’jizat, sebagi bukti kebenaran, menurut Al-Farabi, dapat saja terjadi dan tidak bersama-sama berasal dari akal 10 yang mengatur dunia ini.
(Bersambung...)
June 24, 2009
Filsuf Muslim; Al Farabi (Bagian I)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment
Terima Kasih Atas Komentarnya!