June 26, 2009

Al Farabi (Bagian II)

... Sambungan dari Bagian Satu


Esensi Jiwa

Adapun tentang jiwa, Al-Farabi dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles, dan Plotinus. Jiwa bersifat rohani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah-pindah dari suatu badan kebadan yang lain.
Jiwa manusia sebagaimana halnya materi asal memancar dari Akal 10. kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara accident, artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda, dan binasanya jasad tidak membawa binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang beruap, berkadar dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.

Kebahagiaan

Menurut Al-Farabi, Kebahagiaan adalah pencapaian kesempurnaan akhir bagi manusia. dengan perilaku, berpikir adalah perilaku yang dapat mewujudkan kebahagiaan bagi manusia.
Al-Farabi mengatakan, kebahagiaan yaitu jika manusia mengalami proses kesempurnaan dalam eksistensinya sehingga tegaknya jiwa tidak membutuhkan materi.
Perilaku berkeinginan yang bermanfaat dalam mencapai kebahagiaan adalah perilaku yang baik, sedangkan perilaku yang menghambat kebahagiaan adalah kejahatan, yaitu perilaku buruk.
Teori Al-Farabi tentang kebahagiaan telah mempengaruhi pemikiran kaum filsuf abad pertengahan dari kalangan Kristen. Teorinya juga berpengaruh sampai ke sebagiaan filsuf zaman modern.

Moral

Konsep moral yang ditawarkan al-Farabi dan menjadi satu hal penting dalam karya-karyanya, berkaitan erat dengan jiwa dan politik. Dalam buku Risalah fi al-Tanbih ‘ala Subul al-Sa’adah dan Tahshil al-Sa’adah, al-arabi menekankan empat jenis sifat utama yang harus mejadi perhatian untuk mencapai kabahagiaan di dunia dan akherat bagi bangsa-bangsa dan setiap warga negara, yakni (1) keutamaan teoritis,yaitu prinsip-prinsip pengetahuan yang diperoleh sejak awal tanpa diketahui cara dan asalnya, juga yang diperoleh dengan kontemplasi, penelitian dan melalui belajar dan mengajar; (2) keutamaan pemikiran, adalah yang memungkinkan oranghal-hal yang bermanfaat dalam tujuan. Termasuk dalam hal ini, kemampuan membbuat aturan-aturan, karena itu disebut keutamaan jenis ini dengan keutamaan pemikiran budaya (fadha’il fikriyyah madaniyyah);(3) keutamaan akhlak, bertujuan mencari kebaikan. Jenis keutamaan ini berada di bawah dan menjadi syarat keutamaan pemikiran. Kedua jenis keutamaan tersebut, terjadi dengan tabiatnya dan bisa juga terjadi dengan kehendak sebagai penyempurna tabiat atau watak manusia; (4) keutamaan amaliah, diperoleh dengan dua cara, yaitu pernyataan-peryataanyang memuaskan dan merangsang. Cara lain adalah pemaksaan.
Selain keutamaan di atas, al-Farabi menyarankan agar bertindak tidak berlebihan yang dapat merusak jiwa dan fisik, atau mengambil posisi tengah-tengah. Hal itu dapat ditentukan dengan memperhatikan zaman, tempat, dan orang yang melakukan hal itu, serta tujuan yang dicari, cara yang digunakan dan kerja yang memenuhi semua syarat tersebut. Berani misalnya, adalah sifat terpuji yang terletak diantara dua sifat tercela, membabi buta (tahawwur) dan penakut (jubn). Kemurahan (al-karam) terletak antara dua sifat tercela, kikir dan boros (tabdzir) Memelihara kehormatan diri (iffah) terletak antara dua sifat tercela, keberandalan (khala’ah) dan tidak ada rasa kenikmatan.


Teori Pengetahuan

Al-Farabi berpendapat bawa jendela pengetahuan adala indera, sebab pengetahuan masuk ke dalam diri manusia melalui indera. Sementara pengetahuan totalitas terwujud melalui pengetauan parsial, atau pemahaman universal merupakan asil penginderaan terhadap hal-al yang parsial. Jiwa mengetahui dengan daya. Dan indera adalah jalan yang dimanfaatkan jiwa untuk memperoleh pengetahuan kemanusiaan. Tetapi pengetahuan inderawi tidak memberikan kepada kita informasi tentang esensi segala sesuatu, melainkan hanya memberikan sisi lahiriah segala sesuatu. Sedangkan pengetahuan universal dan esensi segala sesuatu hanya dapat diperoleh melalui akal.
Menurut al-Farabi, di dalam manusia terdapat suatu kesiapan dan persiapan fitrah untuk membebaskan totalitas dari gambaran-gambaran inderawi yang bersifat parsial dan tersimpan di dalam daya fantasi dengan bantuan akal aktif. Sehingga, akal potensial pindah ke akal aktual kemudian ke tingkat akal mustafad, dimana ia membentuk seluruh objek rasional menjadi rasional secara aktual. Dan yang beremanasi kepadanya dari akal aktif adalah suatu daya yang memungkinkannya memahami objek rasional secara langsung.
Menurut al-Farabi, akal aktif mengumpulkan semua gambaranyang ada dalam dirinya, lalu mengirimnya ke alam indera agar mengenakan materi, sebagaimana juga mengirimnya ke akal manusia agar menghasilkan pengetahuan. Diantara gambaran-gambaran yang ada di dalam akal manusia dan gambaran-gambaran di dalam alam indera terdapat kesesuaian universal yang membuat pengetahuan menjadi yaqiniyah (pasti).
Kesesuaian itu dibawa kepusat semua gambar inderawi dan rasional dari akal aktif. Adapun tujuan dari akal manusia adalah kebersambungan dengan akal yang terppisah dan mengidentikkan diri dengannya. Artinya, bahwa pengetahuan yaqiniyah tidak akan dicapai kecuali melalui emanasi yang berasal dari akal aktif sebagai pemberi pengetahuan dan pemberi gambar-gambar. Oleh karena itu ia disebut ma’rifah isyiraqiyah (pengetahuan iluminatif). Ja’far Ali Yasin mengatakan, “seakan-akan dalam proses memahami ini, jiwa memulai dari indera berakhir di balik indera hingga ke tingkat akal mustafad". Kapan saja ia memiliki kesiapan total, maka ia akan ke tingkat akal aktif tanpa perantara. Lalu ia memberikan sebuah daya pemahaman totalitas secara langsung, maka pada saat itu gambar-gambar alam pasial bersepakat dengan objek rasional abstrak dengan alasan bahwa akal aktif adalah yang pertama dan terakdir di dalam pengetahuan menusia ini, baik pengetahuan yang bersifatinderawi maupun rasional.” Dalam hal itu, al-Farabi sangat terpengaruhh oleh aristoteles dan kaum neo-Platonis, dan dia berusaha melakukan penggabungan diantara keduanya. Oleh karena itu, pendapatnya tentang pengetahhuan sama dengan pendapat Aristoteles, sedangkan pendapatnya tentang pengetahuan yang diemanasi dari akal aktif sama dengan pendapat kaum Neo-Platonis.

Mimpi dan Sebab-sebabnya

Sesungguhnya daya fantasi berada di tengah-tengah antara indera dan logika, serta berfungsi melayani keduanya sebagaimana daya fantasi juga melayani daya hasrat. Ketika aktivitas daya indera, daya rasional dan daya hasrat terhenti pada saat tidur serta daya fantasi tidak lagi melayani daya rasional dan daya hasrat, maka daya fantasi tertuju ke sketsa-sketsa inderawi yang tersimpan di dalamnya, sehingga ia memisahkan. Daya fantasi menyusun dan memisahkan sketsa-sketsa inderawi satu sama lain. Selain dua fungsi tersebut, daya fantasi juga memiliki fungsi penting ketiga, yaitu peniruan. Daya fantasi melakukan peniruan dengan menyusun sketsa inderawi yang tersimpan di dalamnya sesuai dengan pengaruh yang ia alami pada saat tidur. Al-Farabi menyebutkan tentang fungsi penting mimpi, yaitu mengurangi dorongan hasrat.

KEPUSTAKAAN
Hasyim,Syah. Filsafat Islam, 1999. Jakarta: Gaya Media Pratama.

0 comments:

Post a Comment

Terima Kasih Atas Komentarnya!